Follow us on social

pestakampung.id

  /  Blog   /  Catatan Riset dan Kuratorial PESTA KAMPUNG 2026: RINDO!

Catatan Riset dan Kuratorial PESTA KAMPUNG 2026: RINDO!

DALAM PERJALANANNYA, Labuan Bajo mendapati sematan dari berbagai pemikiran disertai sikap yang berusaha menandai dirinya sebagai wilayah kosmopolit maupun sebagai kota terbuka melalui narasi ‘pintu masuk atau gerbang Flores’, ‘Kota Persahabatan’, ‘Labuan Bangsa-Bangsa’ hingga ‘Labuan Kita-Kita’ dan kini direnungkan sebagai kota yang inklusif sebagai upaya membangun kepariwisataan yang berkelanjutan.[1]

Labuan Bajo mutakhir hendak menunjukkan interkultural, melampaui apa yang kita pahami sebagai multikultural—dari keberadaan bersama menjadi bersama-sama, dari kondisi berdampingan membawanya menjadi pertukaran pemahaman, dari sejajar menjelma simultan, atau dalam pengertian yang bermaksud serupa, bahwa keduanya penting meski keberadaan bersama tak otomatis membuatnya bersama-sama. Namun keduanya memungkinkan terjadi dalam proses interaksinya.

Lalu apa hubungan pemahaman itu dengan rindo sebagai tajuk utama Pesta Kampung 2026?

Dalam konteks bahasa, terma itu mengandung arti yang serupa dengan dere. Dalam kebudayaan Manggarai kita mengenalnya dengan arti dari kata dasar ‘nyanyi’. Penyebutannya sekaligus menjadi penanda keberadaannya dalam konteks spasial-budaya. Persebaran rindo dan dere tampak menunjukkan penyesuaian terhadap dimensi keruangan (spasial), di mana terma itu tumbuh bersama manusianya. Sebagaimana kebudayaan seringkali lahir dari apa yang tersedia di lingkungannya.[2] Itulah mengapa tak ada dalam bahasa Manggarai untuk menyebutkan strawberry lantaran buah itu memang tidak ditanam di tanah masa lalu kita. Serupa dengan keberadaan rindo yang menunjukkan daya edarnya dalam bentang alam barat Manggarai.

Layaknya memandang itu sebagai warisan produk pengetahuan, Rindo! hendak diletakkan sebagai muatan kunci spesifik dalam Pesta Kampung tahun ini.[3] Adalah cara yang sama dalam meneruskan tiga tema utama yang bertautan setiap tahunnya, dari “Festival Orang Biasa” (2023), “Suara dari Hulu”(2024), hingga “Hilir Mudik” (2025) sebagai praktik ulang-alik pergelaran ini dalam penelusuran pengetahuan lama dan tumpuan pengkaryaan. Itu hendak beriringan dalam urun serta Pesta Kampung berpartisipasi membangun lingkungan kesenian di mana festival komunitas ini bermukim.

Festival sebagai proses berkarya semacam ini hendak mengeksplorasi cara pergelaran ini membangun interaksi-interaksi budaya melalui praktik kreatif-kontekstual. Dengan begitu, Pesta Kampung memungkinkan menemukan spesifikasinya—pemantapan pada apa yang telah ada di dekatnya.

 

WARISAN BUDAYA lama rindo menunjukkan bahwa bernyanyi bukanlah sesuatu yang baru di wilayah ini. Demi membangkitkan inspirasi tajuk utama Rindo! sebagai proses pengkaryaan, semangatnya hendak diletakkan dalam proses-proses kreatif di masa kini. Sekaligus jadi upaya lanjutan Pesta Kampung merayakan pengetahuan tempatan dan membangun pengalaman kreatif bersama melalui apa yang disebut sebagai kegiatan produksi maupun reproduksi kesenian.

Lalu spesifikasi apa yang memungkinkan diupayakan saat ini?

Beberapa tahun terakhir, musim bermusik di bar, kafe, resto atau sejenis itu justru kesenian yang paling menarik perhatian, tampak lebih menonjol sejak hadir dalam dua dekade di kota yang mini ini. Hal itu sangat mudah diperhatikan melalui  kebiasaan live music, mata acara wajib setiap event, gala dinner, dan lain sebagainya—yang datang, hadir dan diberkati  ataupun konsekuensi dari wilayah  terbuka.

Musik, anak muda, kota dan wisata. Bagaimana ekosistemnya[4] terbentuk di Labuan Bajo? Seturut pertanyaan sederhana tentang bagaimana pencatatan perjalanannya hari ini? Adalah pertanyaan penelusuran yang hendak disoroti dalam tajuk utama Rindo! sekaligus terus-menerus membuka jendela masuk Pesta Kampung 2026 menjejali kemungkinan relevansi pengkaryaan yang dilatari pengetahuan dan pengalaman budaya yang pernah ada hingga menjangkau penciptaan karya-karya baru—itu sudah termasuk menyadari kelangkaan sumber daya musisi dan seniman atas karya-karya orisinalnya hingga kenyataan terbatas keproduksiannya.

Sisanya, demi membuka langkah jangka panjang dalam memantapkan navigasi Pesta Kampung kepada pendekatan spasial terkhusus; yakni berlatarbelakang ‘satu pesta satu kampung’, Rindo! bermaksud membuka lagi satu jendela Pesta Kampung menatap kampung halaman. Dengan begitu, tahun ini adalah tahun terakhir puncak pergelaran ini dihelat dalam gunggung setahun sekali.[5] Itu hendak dimulai dengan bernyanyi—dalam pengertian dan bentuk apa pun.

 

Labuan Bajo, 17 Januari 2026.

TIM ORKES PK2026 (Riset & Kuratorial)
Aden Firman & Berry Unggas

 


 

Preferensi

[1] Aden Firman, dkk. dalam  Labuan Bajo yang Mini di Dua Rumah: Narasi Biasa dari Jarak Nol Kilometer (Bawakolong Publisher, 2025)

[2] Gagasan ini bertalian juga dalam pengarsipan Sound of Manggarai sebagai pilot project pendirektorian budaya bernyanyi dari kampung per kampung sekitaran Labuan Bajo. Buku-album ini dimungkinkan juga pengerjaannya oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVI Nusa Tenggara Timur (Aden Firman, dkk., 2024)

[3] Meski merancang Pesta Kampung, sejak awal sengaja berbahasa Indonesia demi menghantar pemahaman yang universal. Kali ini terma setempat dalam masa ujicoba menuju skema pergelaran ‘satu pesta satu kampung’.

[4]  Baca juga Abdul Masli  dalam buku “Pesta Kampung: Festival sebagai Ekosistem” (Bawakolong Publisher, 2025)

[5] Menjalani Tahun Kelima Pesta Kampung, sebuah perenungan menuju dua tahun sekali dalam pengantar katalog Pesta Kampung 2025 (Bawakolong Publisher, 2026)

Post a Comment

Translate »
You don't have permission to register